Tren DBD Naik-Turun, Anak-Anak di Pontianak Masih Jadi Korban Terbanyak

Pontianak, IDN Times – Kasus suspek Demam Berdarah Dengue (DBD) menjadi penyakit terbanyak yang berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) di RSUD dr Soedarso Pontianak sepanjang 19 minggu pertama tahun 2026. Mayoritas pasien yang menjalani perawatan merupakan anak-anak.
Direktur RSUD dr Soedarso, Harry Agung Tjahyadi, mengatakan berdasarkan data surveilans rumah sakit sejak minggu pertama hingga minggu ke-19 tahun 2026, tercatat sebanyak 4.524 pasien menjalani rawat inap.
1. Penyakit DBD mendominasi

Dari jumlah tersebut, sekitar 100 kasus masuk dalam kategori penyakit yang berpotensi menyebabkan KLB. Suspek DBD menjadi kasus terbanyak dibandingkan penyakit lain seperti diare akut, pneumonia, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), demam tifoid, campak, tetanus, hingga gigitan hewan penular rabies.
“Dari 100 kasus itu, yang paling banyak adalah suspek dengue atau DBD. Ini menunjukkan jumlahnya lebih tinggi dibanding penyakit lainnya,” kata Harry, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, kelompok usia anak mendominasi pasien yang dirawat akibat suspek DBD. Kasus ditemukan mulai dari balita hingga anak usia sekolah.
Selain itu, sekitar 60 persen pasien berasal dari Kota Pontianak dan wilayah penyangga di sekitarnya. Sementara 40 persen lainnya merupakan pasien rujukan dari berbagai kabupaten di Kalimantan Barat.
2. Tren kasus DBD di Pontianak

Harry mengungkapkan tren kasus DBD hingga kini masih fluktuatif dan belum menunjukkan penurunan yang signifikan. Pada minggu ke-18 tercatat 54 kasus suspek DBD, kemudian turun menjadi 36 kasus pada minggu ke-19.
“Kalau dilihat dari minggu pertama sampai minggu ke-19, penurunannya tidak drastis, lebih cenderung naik turun. Artinya masyarakat tetap perlu waspada terhadap DBD,” ujarnya.
Ia menegaskan, pengendalian DBD tidak bisa hanya mengandalkan fasilitas kesehatan. Upaya pencegahan harus dilakukan secara bersama-sama melalui pemberantasan sarang nyamuk dan menjaga kebersihan lingkungan.
“Peran masyarakat sangat penting untuk mencegah peningkatan kasus. Pencegahan tetap menjadi langkah utama,” katanya.
3. Komitmen dalam penanganan kasus DBD

Meski kasus DBD masih cukup tinggi, RSUD dr Soedarso memastikan kapasitas pelayanan rumah sakit masih memadai. Saat ini tersedia 104 tempat tidur di ruang perawatan anak yang dinilai cukup untuk menangani pasien.
“Kapasitas tempat tidur anak kami masih bisa menangani kasus-kasus tersebut. Namun antisipasi terhadap kemungkinan lonjakan tetap dilakukan,” tutup Harry.


















