Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Traveling Bukan Cuma Konten, Ini 5 Cara agar Pengalaman Lebih Bermakna
Seorang perempuan sedang memegang kopi. (pexels.com/Maria Tyutina)

Banyak orang pulang dari perjalanan dengan ratusan foto di ponsel, tetapi hanya sedikit kenangan yang benar-benar melekat di ingatan. Secara psikologis, kondisi ini bukan berarti perjalanannya tidak berkesan, melainkan karena otak menerima terlalu banyak rangsangan dalam waktu singkat tanpa sempat mengolahnya secara mendalam.

Destinasi yang berganti cepat, agenda padat, serta perhatian yang terpecah antara menikmati momen dan mengabadikannya membuat pengalaman traveling mudah menguap. Akibatnya, yang tersisa hanya dokumentasi, bukan memori yang kuat.

Kabar baiknya, pengalaman perjalanan bisa “dilatih” agar lebih membekas. Otak bersifat plastis, sehingga cara seseorang menjalani dan memaknai perjalanan sangat memengaruhi apa yang akan diingat di kemudian hari.

Berikut lima tips agar perjalanan tidak mudah terlupakan:

1. Hadir sepenuhnya di satu momen perjalanan

Ilustrasi Tips Mengatasi Overthinking berdasarkan Psikologi Kognitif. (pexels.com/Thiều Hoàng Phước)

Saat traveling, perhatian sering terbagi antara menikmati suasana dan sibuk memotret atau membagikannya di media sosial. Secara psikologis, perhatian yang terpecah membuat otak sulit menyimpan pengalaman secara utuh.

Cobalah untuk benar-benar hadir di satu momen. Sadari suasana sekitar, dengarkan suara-suara di sekeliling, dan rasakan emosi yang muncul. Pengalaman yang dijalani dengan penuh kesadaran cenderung lebih kuat tertanam dalam ingatan.

2. Hubungkan perjalanan dengan emosi dan makna pribadi

Seorang perempuan sedang duduk di tepi danau. (pexels.com/Pixabay)

Otak lebih mudah mengingat pengalaman yang memiliki muatan emosional. Perjalanan yang hanya dijalani tanpa refleksi biasanya cepat memudar dari ingatan.

Memberi makna pribadi pada setiap pengalaman—baik melalui rasa syukur, tantangan, maupun momen haru—akan membantu membentuk memori yang lebih dalam. Semakin kuat emosi yang terlibat, semakin membekas pula kenangan tersebut.

3. Nikmati perjalanan dengan ritme yang memberi jeda

Ilustrasi Quote tentang Self-Expansion untuk Memperluas Pengalaman Hidup. (pexels.com/Charles Parker)

Mengunjungi banyak tempat dalam waktu singkat memang terasa produktif, tetapi bisa membuat otak kewalahan memproses pengalaman.

Berikan jeda dalam perjalanan, seperti duduk santai menikmati suasana, berjalan tanpa tujuan, atau sekadar merenung. Jeda ini membantu otak mengolah dan memperkuat ingatan secara alami.

4. Coba hal baru selama traveling

Ilustrasi Tips Menyusun Ulang Tujuan Hidup dengan Cara yang Lebih Manusiawi. (pexels.com/Andre Furtado)

Perjalanan yang diisi dengan aktivitas serupa cenderung terasa menyatu dan sulit dibedakan dalam ingatan. Rutinitas yang terlalu aman membuat pengalaman terasa datar.

Sebaliknya, mencoba hal baru seperti mencicipi makanan khas, berbincang dengan warga lokal, atau menjelajah tanpa rencana detail dapat memberikan stimulasi mental yang lebih kuat. Pengalaman baru lebih mudah diingat karena dianggap penting oleh otak.

5. Jaga kondisi fisik dan emosional selama perjalanan

Ilustrasi Cara Meningkatkan Kesehatan Mental dalam Menyambut Tahun Baru. (pexels.com/Katii Bishop)

Kelelahan dan stres berlebihan dapat mengganggu proses penyimpanan memori. Perjalanan yang terlalu melelahkan sering hanya menyisakan rasa capek, bukan kenangan indah.

Pastikan kebutuhan istirahat, asupan makanan, dan kondisi emosional tetap terjaga. Ketika tubuh dan pikiran berada dalam kondisi optimal, otak lebih siap merekam pengalaman secara maksimal.

Pada akhirnya, membuat perjalanan tidak mudah terlupakan bukan tentang seberapa jauh jarak yang ditempuh, melainkan tentang bagaimana seseorang hadir dan memaknainya. Kesadaran, emosi, serta ritme perjalanan yang seimbang menjadi kunci agar setiap momen tinggal lebih lama dalam ingatan.

Dengan pendekatan yang tepat, traveling bukan hanya tersimpan di galeri foto, tetapi juga tertanam kuat dalam memori.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team