Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kabut Asap Selimuti Kalbar, Dokter Ingatkan Warga Jaga Kesehatan Mental

Kota Pontianak
3 min read
Kabut Asap Selimuti Kalbar, Dokter Ingatkan Warga Jaga Kesehatan Mental
Suasana kabut asap di Pontianak masuk kategori berbahaya. (IDN Times/Teri).
  • Kabut asap akibat karhutla di Kalbar berpotensi memicu kecemasan, terutama bagi warga rentan atau yang pernah mengalami gangguan kecemasan.
  • Dokter mengimbau warga memverifikasi informasi dari sumber tepercaya dan membatasi berita pemicu takut agar tetap waspada tanpa terbebani kecemasan.
  • Warga disarankan mengurangi aktivitas luar ruangan, memakai masker bila perlu, menjaga kebersihan serta kebutuhan dasar, dan mencari bantuan profesional jika kecemasan memburuk.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pontianak, IDN Times - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Barat (Kalbar) tak hanya mengancam kesehatan fisik, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan mental masyarakat.

Kekhawatiran terhadap bahaya asap, terganggunya aktivitas sehari-hari, hingga informasi mengenai warga yang mengalami sesak napas dan meninggal dunia dapat memicu kecemasan. Kondisi tersebut bahkan berpotensi memunculkan kembali gangguan kecemasan yang sebelumnya pernah dialami seseorang.

Dokter di Pontianak, dr. Firman, Certified Hypnotherapist dan NLP Master Practitioner, mengatakan situasi lingkungan yang mengancam kesehatan dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat.

  1. 1. Situasi karhutla picu kecemasan warga

    IMG_0640.jpeg
    Dokter di Pontianak, Firman. (IDN Times/Teri).

    Menurutnya, situasi bencana yang disertai derasnya informasi mengenai dampak kabut asap dapat membuat sebagian orang merasa waswas dan kesulitan menenangkan pikiran.

    Pengalaman tersebut juga ditemuinya dalam praktik sehari-hari. Sejumlah pasien mengeluhkan kecemasan yang kembali muncul ketika kabut asap melanda.

    “Gara-gara asap ini, kok kecemasan saya kambuh lagi, ya, Dok?” demikian salah satu keluhan pasien yang diterimanya, Selasa (27/10/2026).

    Firman menilai, situasi yang menimbulkan rasa terancam dapat menjadi salah satu pemicu munculnya kembali kecemasan, terutama pada orang yang rentan. Meski demikian, ia mengaku belum mengetahui jumlah pasti masyarakat yang mengalami kecemasan akibat kabut asap.

  2. 2. Bijak dalam menerima informasi

    Buku yang berisikan ilustrasi kesehatan mental
    Buku yang berisikan ilustrasi kesehatan mental (rawpixel.com/Freepik)

    Di tengah kondisi tersebut, arus informasi yang deras juga dapat menambah beban pikiran masyarakat. Informasi mengenai dampak kesehatan yang tidak disertai verifikasi berpotensi memperbesar ketakutan dan memicu kecemasan.

    Karena itu, Firman mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi. Warga perlu memastikan kebenaran berita melalui sumber tepercaya sebelum mempercayai atau membagikannya.

    Membatasi konsumsi berita yang memicu ketakutan juga dapat membantu menjaga kondisi psikologis. Langkah ini bukan berarti mengabaikan situasi bencana, melainkan memilah informasi agar masyarakat tetap waspada tanpa terus-menerus dibebani kecemasan.

    Selain menjaga kesehatan mental, masyarakat tetap perlu mengutamakan perlindungan fisik dari paparan asap. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi apabila memungkinkan, terutama ketika kualitas udara memburuk.

    “Kalau memungkinkan, batasi aktivitas di luar dan perbanyak kegiatan di dalam ruangan,” ujarnya.

  3. 3. Penggunaan masker dan kurangi aktivitas di luar ruangan

    IMG_5895.jpeg
    Suasana kabut asap di Pontianak. (IDN Times/Teri).

    Bagi warga yang harus bekerja di luar ruangan, penggunaan masker yang sesuai dan pemakaian yang benar menjadi salah satu langkah perlindungan. Masyarakat juga perlu menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan kondisi kualitas udara.

    Aktivitas fisik tetap dapat dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan. Warga bisa memilih olahraga ringan di dalam ruangan atau tempat yang lebih terlindungi dari paparan asap.

    Di tengah bencana karhutla, masyarakat juga perlu memperhatikan kebersihan diri dan ketersediaan air bersih. Perubahan kondisi lingkungan dapat menimbulkan kendala dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    Firman mencontohkan kondisi ketika air yang digunakan warga terasa agak asin atau masyarakat memanfaatkan air tampungan hujan untuk mandi. Dalam situasi seperti itu, kelayakan air dan kebersihan diri perlu tetap diperhatikan untuk mencegah munculnya masalah kesehatan lain.

    Menjaga kebersihan, memenuhi kebutuhan dasar, beristirahat cukup, serta mempertahankan rutinitas yang masih memungkinkan merupakan bagian dari upaya merawat diri selama menghadapi bencana.

  4. 4. Masyarakat mengambil langkah mengurangi dampak kabut asap

    ilustrasi kesehatan mental
    ilustrasi kesehatan mental (pexels.com/alex-green)

    Menurut Firman, masyarakat tetap dapat mengambil sejumlah langkah untuk mengurangi dampak kabut asap, mulai dari melindungi diri dari paparan asap, memilah informasi, hingga menjaga kondisi mental.

    Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kecemasan yang terus berulang atau semakin berat.

    “Jika kecemasan terus berulang, terasa semakin berat, atau mulai mengganggu pekerjaan, istirahat, dan aktivitas sehari-hari, masyarakat sebaiknya mencari bantuan tenaga kesehatan atau berkonsultasi dengan tenaga profesional kesehatan mental,” tukasnya.

    Di tengah upaya melindungi tubuh dari udara yang tercemar, menjaga kesehatan mental menjadi bagian penting agar masyarakat dapat menghadapi situasi bencana dengan lebih baik.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More