Prabowo tinjau lokasi karhutla di Kalbar. (IDN Times/Sekretariat Presiden).
Rizaldi menilai pemerintah terlambat mengantisipasi dampak El Nino Godzilla dan IOD positif. Hal itu, menurutnya, terlihat dari luasan karhutla yang telah mencapai lebih dari 200 ribu hektare di berbagai wilayah Indonesia serta munculnya krisis hidrologi.
Ia mencontohkan kondisi Sungai Barito di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan yang mengalami pendangkalan ekstrem. Kedalaman sungai yang normalnya mencapai sekitar 11,5 meter disebut menyusut menjadi hanya sekitar 0,6 meter.
"Sekarang ini pemerintah memang agak terlambat dalam antisipasi fenomena ini sehingga biayanya sangat besar," kata Rizaldi.
Padahal, menurut dia, pemerintah memiliki perangkat pemantauan iklim yang dapat dimanfaatkan untuk memprediksi dampak El Nino dan IOD sejak jauh hari.
Rizaldi mengatakan prediksi tersebut dapat dilakukan dengan memadukan informasi iklim, tingkat kerentanan wilayah, dan potensi kondisi ekstrem. Dengan demikian, pemerintah dapat memetakan wilayah yang berpotensi mengalami karhutla sebelum bencana terjadi.
"Tool ini bisa kita optimalkan agar bisa memprediksi titik karhutla sebelum terjadi El Nino dan IOD. Sehingga kita bisa optimalkan potensi anggaran, kelembagaan, mobilisasi sumber daya, dan penyusunan tata ruang," ujarnya.
Ia mengingatkan, memasuki September, sejumlah wilayah sudah berada dalam fase risiko tinggi karhutla. Karena itu, langkah mitigasi dan kesiapsiagaan perlu dilakukan lebih cepat agar dampak kekeringan dan karhutla tidak semakin meluas.