Samarinda, IDN Times - Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, menjadi sorotan publik setelah kebijakan pengadaan mobil dinas senilai Rp8,5 miliar menuai kritik. Kebijakan tersebut viral di media sosial dan dianggap sebagian kalangan tidak selaras dengan semangat penghematan anggaran di tengah pemangkasan dana transfer dari pemerintah pusat.
Sebagaimana diketahui, Dana Bagi Hasil (DBH) Kaltim untuk tahun 2026 dipangkas menjadi Rp3,13 triliun, dari sebelumnya Rp9,9 triliun pada 2025.
Selain polemik mobil dinas, isu lain yang mencuat adalah dugaan menguatnya dinasti politik keluarga Mas’ud di Kalimantan Timur.
Koordinator Pokja 30 Samarinda, Buyung Marajo, menilai terdapat konsentrasi kekuasaan dalam lingkar keluarga yang berpotensi memengaruhi dinamika pemerintahan daerah.
“Fenomena keluarga Mas’ud ini sedang membangun dinasti politik. Persoalan di Kaltim seolah cukup diselesaikan di atas meja makan,” ujar Buyung saat dihubungi, Sabtu (28/2/2026).
