Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sering Bad Mood Setelah Scroll Media Sosial? Ini Penyebabnya
Ilustrasi algoritma mempengaruhi mood(Pexel.com/Antoni Shkraba)

Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, pernahkah kamu merasa suasana hati berubah menjadi lebih buruk setelah beberapa menit scrolling? Jika iya, kemungkinan penyebabnya bukan hanya konten yang kamu lihat, tetapi juga cara algoritma media sosial bekerja.

Algoritma dirancang untuk menampilkan konten yang dianggap paling menarik bagi setiap pengguna. Tujuannya adalah membuat pengguna bertahan lebih lama di dalam aplikasi. Tanpa disadari, sistem ini juga dapat memengaruhi emosi, pola pikir, hingga kebiasaan sehari-hari.

Berikut beberapa cara algoritma media sosial dapat memengaruhi kondisi emosimu.

1. Konten Negatif Lebih Mudah Memengaruhi Suasana Hati

Ilustrasi algoritma mempengaruhi mood(Pexel.com/Eren)

Algoritma cenderung menampilkan konten yang memancing perhatian dan interaksi tinggi. Sayangnya, berita buruk, konflik, atau komentar bernada negatif sering kali lebih banyak menarik respons pengguna.

Jika terus-menerus mengonsumsi konten seperti ini, suasana hati bisa ikut terpengaruh, bahkan memicu stres atau kecemasan.

Tips: Manfaatkan fitur mute, hide, atau unfollow pada akun yang sering membagikan konten negatif. Isi linimasa dengan konten yang lebih positif dan bermanfaat.

2. Algoritma Bisa Membatasi Cara Pandang

Ilustrasi algoritma mempengaruhi mood(Pexel.com/Lisa Fotios)

Pernah merasa isi linimasa selalu sejalan dengan pendapatmu? Hal itu terjadi karena algoritma mempelajari kebiasaan dan preferensi pengguna, lalu menyajikan konten yang serupa.

Di satu sisi hal ini terasa nyaman, tetapi di sisi lain dapat membuat seseorang terjebak dalam "ruang gema" (echo chamber), sehingga jarang melihat sudut pandang yang berbeda.

Tips: Sesekali ikuti akun atau media yang menyajikan perspektif berbeda agar wawasan tetap terbuka dan lebih kritis.

3. Membandingkan degan pihak lain

Ilustrasi algoritma mempengaruhi mood(Pexel.com/Ron Lach)

Foto liburan mewah, pencapaian karier, hingga gaya hidup yang terlihat sempurna sering memenuhi media sosial. Jika tidak disikapi dengan bijak, hal tersebut bisa memicu rasa minder dan membuat seseorang merasa hidupnya tertinggal.

Padahal, sebagian besar yang ditampilkan di media sosial hanyalah momen terbaik atau highlight kehidupan seseorang.

Tips: Fokus pada perkembangan diri sendiri. Jadikan media sosial sebagai sumber inspirasi, bukan alat untuk membandingkan diri dengan orang lain.

4. Sulit lepas dari ponsel

Ilustrasi algoritma memengaruhi mood(Pexel.com/Craig Adderley)

Setiap notifikasi yang muncul dapat memicu rasa penasaran dan keinginan untuk segera membuka aplikasi. Kondisi ini membuat banyak orang tanpa sadar terus-menerus mengecek media sosial, meski sebenarnya tidak ada hal penting.

Jika dibiarkan, kebiasaan tersebut dapat mengganggu produktivitas dan kualitas interaksi di dunia nyata.

Tips: Matikan notifikasi yang tidak penting dan tentukan waktu khusus untuk membuka media sosial agar penggunaannya lebih terkontrol.

Media sosial pada dasarnya dapat menjadi sarana hiburan, belajar, maupun berinteraksi. Namun, manfaat tersebut akan lebih terasa jika digunakan secara bijak. Dengan memahami cara kerja algoritma, kamu dapat lebih sadar dalam memilih konten yang dikonsumsi dan menjaga kesehatan mental.

Ingat, kehidupan nyata jauh lebih penting daripada apa yang tampil di layar. Gunakan media sosial sebagai alat untuk memperkaya pengalaman, bukan sebagai sumber tekanan dalam kehidupan sehari-hari.

5. Notifikasi dirancang untuk menarik emosi kamu

Ilustrasi algoritma mempengaruhi mood(Pexel.com/Ron Lach)

Media sosial pada dasarnya dapat menjadi sarana hiburan, belajar, maupun berinteraksi. Namun, manfaat tersebut akan lebih terasa jika digunakan secara bijak. Dengan memahami cara kerja algoritma, kamu dapat lebih sadar dalam memilih konten yang dikonsumsi dan menjaga kesehatan mental.

Ingat, kehidupan nyata jauh lebih penting daripada apa yang tampil di layar. Gunakan media sosial sebagai alat untuk memperkaya pengalaman, bukan sebagai sumber tekanan dalam kehidupan sehari-hari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article