Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Takut Uang Habis Padahal Tabungan Menumpuk? Ini 5 Tanda Money Dysmorphia
ilustrasi money dysmorphia (magnific.com/stockking)
  • Money dysmorphia menggambarkan persepsi negatif terhadap keuangan meski tabungan, investasi, dan penghasilan relatif stabil, yang dapat memicu kecemasan serta mengganggu kesehatan mental.
  • Tandanya meliputi terus khawatir uang kurang, merasa bersalah saat belanja kebutuhan pribadi, menghindari obrolan finansial, dan membandingkan kondisi ekonomi dengan orang lain.
  • Kebiasaan menghemat hingga mengabaikan makan atau pengobatan perlu diwaspadai; bila kecemasan uang mengganggu aktivitas dan kualitas hidup, pertimbangkan konsultasi psikolog atau konselor keuangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah merasa uang selalu kurang, padahal tabungan cukup, investasi berjalan, dan penghasilan terbilang stabil? Jika iya, bisa jadi kamu sedang mengalami money dysmorphia.

Money dysmorphia merupakan istilah untuk kondisi ketika seseorang memiliki persepsi negatif atau merasa tidak aman terhadap kondisi keuangannya, meskipun situasi finansialnya relatif stabil. Perasaan ini bisa memicu kecemasan berlebihan, membuat seseorang sulit menikmati hasil kerja kerasnya, hingga mengganggu kesehatan mental.

Kondisi ini juga bisa membuat seseorang terus merasa kekurangan, takut mengeluarkan uang, atau kerap membandingkan kondisi finansialnya dengan orang lain.

Lantas, apa saja tanda-tanda money dysmorphia yang perlu dikenali? Berikut lima di antaranya.

1. Khawatir uang tidak cukup

Ilustrasi money dysmorphia bisa bikin kehilangan tujuan hidup(pexel.com/cottonbro studio)

Meski memiliki tabungan, penghasilan rutin, dan kondisi finansial yang relatif aman, kamu tetap merasa khawatir uang tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan.

Pikiran seperti, “Apakah uangku cukup sampai akhir bulan?” terus muncul, bahkan ketika tidak ada masalah keuangan yang mendesak. Kekhawatiran ini membuatmu sulit merasa tenang dan cenderung terus memikirkan kemungkinan terburuk terkait keuangan.

2. Merasa bersalah menggunakan uang sendiri

Ilustrasi mengelola money dysmorphia(Pexel.com/Photo By: Kaboompics.com)

Sudah rutin menabung dan melihat saldo rekening terus bertambah, tetapi kamu tetap merasa tidak tenang saat mengeluarkan uang untuk kebutuhan pribadi.

Membeli kopi favorit, menikmati makanan kesukaan, atau membeli barang yang sudah lama diinginkan justru memunculkan rasa bersalah. Kamu bahkan bisa menahan diri secara berlebihan karena takut pengeluaran kecil akan mengganggu kondisi keuangan.

Berhemat memang penting, tetapi mengelola uang secara sehat juga berarti memberi ruang untuk menikmati hasil kerja keras tanpa mengabaikan kebutuhan utama.

3. Menghindari topik pembicaraan tentang uang

Ilustrasi mengelola money dysmorphia(Pexel.com/Diana)

Obrolan mengenai gaji, tabungan, investasi, atau perencanaan keuangan bisa memicu kecemasan. Akibatnya, kamu memilih menghindari pembicaraan tersebut karena takut merasa tidak mampu mengelola uang dengan baik.

Padahal, memahami kondisi finansial dan berdiskusi mengenai pengelolaan uang dapat membantu seseorang membuat keputusan yang lebih bijak. Jika rasa takut membuatmu terus menghindari topik ini, ada baiknya mengevaluasi apa yang sebenarnya memicu kecemasan tersebut.

4. Sering membandingkan kondisi finansial dengan orang lain

ilustrasi seorang wanita mengalami money dysmorphia (pexels.com/Kaboompics)

Melihat teman berlibur ke luar negeri, membeli kendaraan baru, atau mengenakan barang bermerek terkadang membuatmu merasa tertinggal secara finansial.

Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain dapat memperkuat perasaan bahwa uang yang dimiliki tidak pernah cukup. Padahal, kondisi keuangan setiap orang berbeda, begitu pula kebutuhan, tanggungan, dan prioritasnya.

Apa yang terlihat di media sosial juga belum tentu menggambarkan keadaan finansial seseorang secara utuh. Karena itu, penting untuk menetapkan tujuan keuangan berdasarkan kemampuan dan kebutuhan pribadi, bukan sekadar mengikuti pencapaian orang lain.

5. Terobsesi menghemat

Ilustrasi mengelola money dysmorphia(Pexel.com/Joslyn Pickens)

Berhemat merupakan bagian dari pengelolaan keuangan yang baik. Namun, kebiasaan menahan pengeluaran hingga mengorbankan kebutuhan penting perlu diwaspadai.

Misalnya, menunda berobat ketika sakit, mengurangi kebutuhan makan secara berlebihan, atau terus menghindari pengeluaran dasar karena takut saldo rekening berkurang.

Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini justru dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik maupun mental. Menjaga kondisi keuangan tetap stabil seharusnya tidak membuatmu mengabaikan kebutuhan dasar.

Jika kamu merasa dekat dengan beberapa tanda di atas, jangan langsung menyimpulkan bahwa kamu mengalami money dysmorphia. Istilah ini bukan diagnosis klinis yang berdiri sendiri, dan kekhawatiran terhadap uang juga bisa dipengaruhi kondisi ekonomi, pengalaman masa lalu, atau tekanan sosial.

Namun, jika kecemasan soal uang terus mengganggu aktivitas sehari-hari, membuatmu sulit memenuhi kebutuhan, atau mengurangi kualitas hidup, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog. Konselor keuangan juga dapat membantu menyusun perencanaan keuangan yang sesuai dengan kondisi dan tujuanmu.

Ingat, mengelola uang bukan hanya tentang menambah saldo tabungan, tetapi juga memastikan uang tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan mendukung kualitas hidup. Kamu berhak merasa aman secara finansial sekaligus menikmati hasil kerja kerasmu dengan bijak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article