Plt Kepala BPBD Kalbar, Ridwan. (IDN Times/Teri).
Meski demikian, peluang hujan masih terbuka hingga 10 September. Sebelumnya, potensi pembentukan awan disebut cukup tinggi pada periode 4–7 September.
Dalam beberapa hari terakhir, hujan memang mulai turun di sejumlah wilayah Kalbar. Kawasan perhuluan seperti Kapuas Hulu dan Sintang tercatat mendapat hujan dengan intensitas lebih kuat.
Namun, kondisi berbeda masih terjadi di Ketapang dan Kubu Raya. Kedua wilayah tersebut masih minim hujan dan menjadi daerah yang perlu mendapat perhatian karena titik panas dan titik api masih cukup tinggi.
“Yang masih kuat titik panas dan titik apinya adalah di daerah Ketapang dan Kubu Raya. Di sana masih sangat minim hujan,” kata Ridwan.
Selain dua wilayah tersebut, Melawi juga mulai menjadi perhatian. Peningkatan titik panas disertai adanya kebakaran lahan membuat risiko karhutla di wilayah tersebut masih tinggi.
“Yang paling tinggi tetap masih Ketapang, tetapi menyusul Melawi. Di sana juga sudah ada kebakaran lahan,” ujarnya.
Dengan tambahan armada menjadi tiga pesawat, pemerintah berharap cakupan OMC dapat semakin optimal untuk membantu membasahi wilayah rawan karhutla.
Namun, banyaknya pesawat bukan satu-satunya penentu keberhasilan operasi. Tanpa bibit awan yang cukup dan kondisi atmosfer yang mendukung, pesawat tetap tidak dapat melakukan penyemaian secara maksimal.