Tiga Pesawat Kejar Hujan di Kalbar, Bibit Awan Justru Masih Minim

- BNPB menambah satu pesawat Operasi Modifikasi Cuaca di Kalbar, sehingga total tiga armada dikerahkan untuk menyemai awan dan mendukung penanganan karhutla.
- Pelaksanaan penyemaian bergantung pada analisis BMKG tentang bibit awan, potensi hujan, serta arah dan kecepatan angin; saat ini bibit awan di Kalbar masih sangat minim.
- Hujan mulai turun di beberapa wilayah, tetapi Ketapang dan Kubu Raya masih minim hujan dengan titik panas tinggi; Melawi juga menjadi perhatian akibat kebakaran lahan.
Pontianak, IDN Times - Pemerintah memperkuat upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) dengan menambah armada pesawat untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kini mengerahkan tiga pesawat untuk melakukan penyemaian awan di wilayah Kalbar yang masih membutuhkan hujan.
Penambahan satu pesawat tersebut dilakukan setelah Kepala BNPB memberikan instruksi untuk memperkuat operasi yang telah berjalan sejak Kalbar menetapkan status tanggap darurat karhutla pada 28 Agustus hingga 10 September 2026.
1. Penambahan pesawat untuk OMC

Upaya penaburan garam untuk datangkan hujan. (IDN Times/istimewa). Plt Kepala BPBD Kalbar, Ridwan, mengatakan sebelumnya hanya ada dua pesawat yang menjalankan OMC.
“Awalnya hanya dua pesawat. Kemudian atas perintah Kepala BNPB, dilakukan penambahan satu unit pesawat lagi. Jadi, sampai hari ini ada tiga pesawat OMC yang sudah beroperasi di Kalbar,” kata Ridwan, Rabu (9/9/2026).
Ketiga pesawat tersebut dikerahkan untuk menyemai awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Namun, keberadaan tiga armada tersebut tidak serta-merta membuat penyemaian bisa dilakukan setiap waktu.
Menurut Ridwan, OMC sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca. Tim harus terlebih dahulu melihat hasil analisis BMKG mengenai keberadaan bibit awan, potensi hujan, serta arah dan kecepatan angin.
2. Minimnya bibit awan di Kalbar

Salah satu pesawat untuk pengerjaan hujan buatan. (IDN Times/istimewa). Jika awan tersedia tetapi arah angin tidak mendukung, penyemaian tidak dilakukan. Sebaliknya, ketika seluruh kondisi dianggap memungkinkan, pesawat langsung dikerahkan.
“Apabila peluangnya ada, bibit awannya sudah ada, tetapi arah anginnya tidak mendukung, kita putuskan untuk tidak melakukan penyemaian. Tapi kalau potensi awannya ada dan arah anginnya mendukung, itu kita lakukan,” jelas Ridwan.
Operasi bahkan dapat berlangsung hingga sekitar pukul 23.00 WIB apabila kondisi atmosfer masih memungkinkan.
Masalahnya, saat ini Kalbar masih menghadapi keterbatasan bibit awan. Ridwan menyebut awan yang memenuhi syarat untuk disemai masih minim, bahkan kondisi serupa terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan.
“Memang bibit-bibit awan yang akan disemai masih minim sekali untuk wilayah Kalimantan Barat. Bahkan dapat dikatakan untuk wilayah Kalimantan secara keseluruhan,” ujarnya.
3. Masih ada peluang hujan

Plt Kepala BPBD Kalbar, Ridwan. (IDN Times/Teri). Meski demikian, peluang hujan masih terbuka hingga 10 September. Sebelumnya, potensi pembentukan awan disebut cukup tinggi pada periode 4–7 September.
Dalam beberapa hari terakhir, hujan memang mulai turun di sejumlah wilayah Kalbar. Kawasan perhuluan seperti Kapuas Hulu dan Sintang tercatat mendapat hujan dengan intensitas lebih kuat.
Namun, kondisi berbeda masih terjadi di Ketapang dan Kubu Raya. Kedua wilayah tersebut masih minim hujan dan menjadi daerah yang perlu mendapat perhatian karena titik panas dan titik api masih cukup tinggi.
“Yang masih kuat titik panas dan titik apinya adalah di daerah Ketapang dan Kubu Raya. Di sana masih sangat minim hujan,” kata Ridwan.
Selain dua wilayah tersebut, Melawi juga mulai menjadi perhatian. Peningkatan titik panas disertai adanya kebakaran lahan membuat risiko karhutla di wilayah tersebut masih tinggi.
“Yang paling tinggi tetap masih Ketapang, tetapi menyusul Melawi. Di sana juga sudah ada kebakaran lahan,” ujarnya.
Dengan tambahan armada menjadi tiga pesawat, pemerintah berharap cakupan OMC dapat semakin optimal untuk membantu membasahi wilayah rawan karhutla.
Namun, banyaknya pesawat bukan satu-satunya penentu keberhasilan operasi. Tanpa bibit awan yang cukup dan kondisi atmosfer yang mendukung, pesawat tetap tidak dapat melakukan penyemaian secara maksimal.




















