Ramadan Momentum Ukhuwah, Guru Saiful Ingatkan Jangan Tumbur

Banjarmasin, IDN Times - Guru Haji Saiful Anshari mengimbau umat Muslim agar tidak memperdebatkan perbedaan awal puasa Ramadan. Ia meminta masyarakat tidak “tumbur” — istilah dalam bahasa Banjar yang berarti mempermasalahkan atau meributkan suatu perbedaan.
“Dalam penetapan awal bulan Hijriah atau Kamariah, dasarnya sama. Yang berbeda hanya pendekatannya,” ujar Guru Saiful dalam tausyiah seusai shalat Subuh di Masjid Assa’adah, Kompleks Beruntung Jaya, Banjarmasin dilaporkan Antara, Selasa (17/2/2026).
Pengasuh salah satu pondok tahfiz di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) itu menyampaikan imbauan tersebut dalam pengajian rutin “Sifat 20” atau ajaran tarekat Asy’ariyah. Materi yang dibahas kali ini berkaitan dengan sifat Allah, yakni Sami’an (Maha Mendengar), yang juga dikaitkan dengan momentum Ramadan.
1. Kemampuan maha besar Allah

Menurut dia, sifat Maha Mendengar dan Maha Mengetahui Allah berbeda dengan kemampuan manusia yang sangat terbatas.
“Ke maha Mendengaran dan Ke maha Tahuan Allah tidak ada yang menyerupai makhluk ciptaan-Nya,” ujar Guru Saiful.
Dalam kesempatan itu, ia juga kembali mengingatkan keutamaan membaca salawat kepada Nabi Muhammad SAW. Ia menyampaikan bahwa salawat memiliki kedudukan istimewa, bahkan disebut sebagai mahar Nabi Adam AS ketika menikah dengan Siti Hawa.
“Oleh karena itu, umat Muslim dianjurkan memperbanyak membaca salawat. Insya Allah kelak akan dipertemukan dengan Rasulullah SAW di surga,” tuturnya.
2. Pentingnya menjaga lisan selama puasa

Selain itu, dalam pengajian tersebut Guru Saiful menekankan pentingnya menjaga lisan selama berpuasa, khususnya menghindari perbuatan gibah atau membicarakan keburukan orang lain. Ia mengingatkan, gibah dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa.
“Mengibah itu pekerjaan yang paling mudah dan sering kali tidak terasa bahwa pembicaraan tersebut termasuk dosa,” katanya.
3. Ilustrasi tentang penemuan jenasah dengan kain kafan

Ia kemudian mengilustrasikan kisah tentang jenazah yang kain kafannya masih utuh meski telah dimakamkan selama beberapa tahun. Temuan itu terjadi saat pembangunan flyover Kayu Tangi di Banjarmasin. Setelah ditelusuri, keluarga menyebutkan bahwa semasa hidupnya, almarhum tidak pernah melakukan gibah.
“Orang yang menjaga lisannya akan mendapat kasih sayang Allah,” ujar Guru Saiful menutup tausyiah.


















