Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
BPOM Temukan Makanan Berformalin di Bontang dan Kutai Timur
Suasana kawasan religi Sunan Ampel saat Ramadan. IDN Times/Ardiansyah Fajar.

Sangata, IDN Times - Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Samarinda melakukan pengawasan terhadap makanan di sejumlah pasar Ramadan di Kota Bontang dan Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Hasilnya, masing-masing wilayah ditemukan satu sampel makanan yang diduga mengandung formalin.

"Di Bontang dan Kutim, kami menemukan satu sampel makanan di setiap daerah yang diduga menggunakan formalin atau bahan pengawet berbahaya," ujar Kepala BPOM Samarinda, Sem Lapik dilaporkan Antara, di Sangata, Jumat (8/3).

1. Pengawasan makanan selama Ramadan di Kaltim

Robby Purba beli takjil (Instagram.com/robbypurba)

Untuk menjaga keamanan pangan selama bulan Ramadan, BPOM Samarinda aktif melakukan pengawasan di 10 kabupaten/kota di Kalimantan Timur. Di Bontang dan Kutim, pengawasan dilakukan di beberapa titik pasar Ramadan dengan mengambil sampel makanan yang dijual.

"Kami mengumpulkan puluhan sampel dan menguji kandungan berbahaya menggunakan Rapid Test Kit, alat deteksi cepat yang dapat mendeteksi formalin, boraks, dan pewarna tekstil dalam makanan," jelas Sem.

2. Pengambilan sampel makanan di pasar Ramadan

Petugas BPOM saat melakukan pemeriksaan makanan takjil. IDN Times/ Bramanta Pamungkas

Di Kutim, BPOM mengambil 21 sampel makanan dari dua lokasi pasar Ramadan secara acak. Dari hasil uji cepat, 20 sampel dinyatakan aman, sementara satu sampel menunjukkan indikasi positif mengandung formalin.

"Dalam tes awal, satu sampel menunjukkan perubahan warna menjadi ungu, yang mengindikasikan kemungkinan adanya pengawet formalin," ungkapnya.

Hal serupa juga ditemukan saat pengawasan di Kota Bontang. Dari 22 sampel yang diuji, satu di antaranya diduga mengandung formalin.

3. Uji laboratorium

Petugas BPOM Kota Denpasar mengecek kandungan makanan di laboratorium keliling. (IDN Times/Yuko Utami)

BPOM Samarinda akan melakukan uji lanjutan di laboratorium untuk memastikan kandungan formalin dalam makanan yang dicurigai. Proses ini diperkirakan memakan waktu 2 hingga 5 hari.

Sem Lapik mengingatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar lebih cermat dalam memilih bahan makanan yang digunakan. Ia juga mengimbau masyarakat untuk lebih teliti sebelum membeli makanan.

"Pastikan selalu mengecek keamanan produk, label, izin edar, dan tanggal kedaluwarsa sebelum membeli makanan," pesannya.

Editorial Team

Related Article