- Kabut asap yang dapat bertahan dalam waktu lama.
- Gangguan terhadap aktivitas masyarakat.
- Terganggunya transportasi darat, laut, dan udara.
- Menurunnya kualitas udara.
- Meningkatnya risiko gangguan pernapasan, termasuk ISPA.
- Aktivitas sekolah dan perekonomian dapat terganggu.
- Risiko terhadap keselamatan warga dan petugas pemadam.
- Kerugian ekonomi akibat terganggunya berbagai aktivitas.
- Asap dapat menyebar hingga wilayah negara tetangga.
Karhutla Kembali Mengintai Kalimantan, Ini 5 Fakta yang Wajib Tahu

- Musim kemarau yang diperparah El Niño meningkatkan ancaman karhutla di Kalimantan hingga akhir tahun, berisiko memicu kabut asap, gangguan transportasi, dan penurunan kualitas udara.
- Hingga Juni 2026, karhutla di Kalimantan Barat mencapai 28.680 hektare, sementara Kalimantan Tengah mencatat sekitar 3.069 hektare hingga akhir Juli; kebakaran gambut sulit dikendalikan.
- Kalimantan Tengah, Barat, dan Selatan paling rawan mengalami kebakaran luas; dampaknya mencakup gangguan pernapasan, aktivitas sekolah-ekonomi, keselamatan warga, serta asap yang dapat menembus negara tetangga.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di Pulau Kalimantan. Memasuki musim kemarau yang diperparah fenomena El Niño, risiko kebakaran diperkirakan meningkat hingga akhir tahun.
Ancaman karhutla tidak hanya berupa kerusakan hutan dan lahan. Kebakaran juga berpotensi memicu kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat, transportasi, hingga kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan. Dalam kondisi tertentu, asap bahkan dapat terbawa hingga ke wilayah negara tetangga.
Berikut sejumlah fakta mengenai karhutla yang berulang terjadi di Kalimantan.
1. Laporan karhutla terjadi di Kalbar

Ilustrasi petugas dari satgas gabungan pemadam kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) berusaha memadamkan kebakaran lahan di Jalan Tjilik Riwut Km 9, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Kamis (31/8/2023). ANTARA FOTO/Auliya Rahman/hp Salah satu wilayah yang mengalami karhutla cukup luas pada 2026 adalah Kalimantan Barat (Kalbar).
Data Kementerian Kehutanan mencatat, hingga Juni 2026 luas karhutla di Kalbar mencapai 28.680 hektare. Kondisi ini menjadi perhatian karena sebagian kebakaran terjadi di kawasan gambut yang relatif sulit dikendalikan.
Pada lahan gambut, api tidak selalu berhenti ketika nyala di permukaan berhasil dipadamkan. Bara dapat bertahan di dalam lapisan tanah dan kembali muncul ketika kondisi kembali kering.
Kondisi serupa juga menjadi perhatian di Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Selatan (Kalsel), yang memiliki kawasan gambut cukup luas.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga akhir Juli 2026 terdapat sekitar 3.069 hektare kawasan di Kalteng yang terdampak karhutla.
2. Bencana karhutla terparah di Kalimantan

Pemerintah Perkuat Penanganan Karhutla di Kalimantan. (Dok. Bakom RI) Karhutla bukan persoalan baru bagi Kalimantan. Salah satu episode terparah terjadi pada 2015.
Secara nasional, luas karhutla pada 2015 mencapai sekitar 2,61 juta hektare. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat 2015 sebagai salah satu tahun dengan luas karhutla terbesar dalam periode 2015–2019.
Kalimantan menjadi salah satu pusat kebakaran terbesar. Hingga 20 Oktober 2015, luas kebakaran gambut di Kalimantan tercatat sekitar 267.974 hektare.
Kalimantan Tengah menjadi salah satu provinsi yang paling parah terdampak. Luas lahan terbakar di provinsi tersebut pada 2015 mencapai sekitar 583.833 hektare.
Dampak karhutla saat itu terasa luas. Kabut asap mengganggu aktivitas masyarakat, transportasi, hingga penerbangan di sejumlah wilayah Kalimantan. Asap juga menyebar hingga ke negara tetangga.
Masyarakat terpaksa mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker untuk melindungi diri dari paparan asap.
3. Dampak karhutla bagi masyarakat Kalimantan

Kabut asap akibat karhutla masih tebal di Pontianak. (IDN Times/Teri). Karhutla dapat menimbulkan dampak berantai terhadap kehidupan masyarakat.
Beberapa dampak yang paling sering muncul antara lain:
4. Provinsi dengan tingkatkan karhutla terendah

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kelurahan Nenang, Kecamatan Penajam, Kabupaten PPU, Kaltim, Kamis (10/8/2023). (ANTARA/HO-BPBD PPU) Meski seluruh provinsi di Kalimantan memiliki potensi karhutla, tingkat kejadiannya tidak sama.
Data Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla di lima provinsi Kalimantan pada 2022 mencapai sekitar 24.562 hektare.
Rinciannya:
- Kalimantan Barat: 21.836 hektare
- Kalimantan Tengah: 1.554 hektare
- Kalimantan Selatan: 429 hektare
- Kalimantan Timur: 373 hektare
- Kalimantan Utara: 370 hektare
Data tersebut menunjukkan Kalimantan Timur (Kaltim) dan Kalimantan Utara (Kaltara) memiliki luasan karhutla yang relatif lebih rendah dibandingkan tiga provinsi lainnya pada 2022.
Namun, kondisi tersebut bukan berarti Kaltim dan Kaltara terbebas dari ancaman karhutla. Kebakaran tetap dapat terjadi ketika kondisi cuaca kering, curah hujan rendah, dan vegetasi mudah terbakar.
5. Peringkat provinsi yang rawan karhutla
Karhutla Kaltim Masih bisa dikendalikan (Dok. Dishut Kaltim) Jika melihat rekam jejak karhutla dalam beberapa tahun terakhir, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan menjadi tiga provinsi yang paling sering mengalami kebakaran dengan luasan besar.
Kalimantan Tengah dikenal sebagai salah satu wilayah paling rawan karena memiliki kawasan gambut yang luas. Karhutla juga berulang terjadi di sejumlah wilayahnya.
Kalimantan Barat menjadi salah satu episentrum karhutla. Pada 2026, provinsi ini bahkan menjadi wilayah dengan luas karhutla terbesar di Indonesia hingga periode Juni.
Sementara itu, Kalimantan Selatan memiliki karakter karhutla yang cenderung fluktuatif. Pada tahun-tahun tertentu, luas kebakaran dapat melonjak sangat tinggi.
Adapun Kalimantan Timur juga tetap memiliki risiko karhutla, meski luas kebakarannya dalam beberapa periode lebih rendah dibandingkan Kalbar, Kalteng, dan Kalsel.
Sedangkan Kalimantan Utara tetap berpotensi mengalami karhutla, tetapi luasan kebakaran dalam sejumlah periode tercatat lebih terbatas.


















