Karhutla Mengancam Kaltim, Titik Panas Kini Terdeteksi hingga Berau

- BPBD Kaltim memperkirakan 900–1.000 hektare titik api tersebar di Paser, Kutai Timur, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, serta terbaru di Berau.
- Status siaga karhutla berlaku hingga akhir 2026 karena kemarau panjang dan El Nino; BPBD terus memantau serta berkoordinasi dengan daerah.
- Data Sipongi mencatat 2.715 hektare titik panas Kaltim pada Juni 2026, berbeda dari titik api dan menjadi bahan evaluasi pemantauan karhutla.
Samarinda, IDN Times - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur (Kaltim) memperkirakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi pada area seluas 900 hingga 1.000 hektare. Sebarannya berada di sejumlah wilayah, seperti Kabupaten Paser, Kutai Timur, Kutai Barat, dan Kutai Kartanegara.
Terbaru, titik panas juga terpantau di Kabupaten Berau. BPBD Kaltim terus memantau perkembangan sebaran titik api tersebut bersama BPBD kabupaten dan kota.
“Jumlah titik api di Kaltim berfluktuasi, tetapi jumlahnya diperkirakan seluas 900 hingga 1.000 hektare,” kata Kepala BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan saat dihubungi IDN Times, Sabtu (22/8/2026).
Buyung mengatakan pemantauan terus dilakukan, terutama setelah Gubernur Kaltim menetapkan status siaga penanggulangan bencana karhutla yang dipicu kondisi kemarau dan fenomena El Nino hingga akhir 2026.
“Kemarau panjang menyebabkan kebakaran lahan di sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan. Apalagi diprediksi kemarau akan berlangsung hingga akhir tahun ini,” ujarnya.
1. Koordinasi aktif BPBD di Kaltim

Peserta apel persiapan pengendalian Karhutla di IKN dan Kaltim. Sumber foto Tim Komunikasi OIKN (IDN Times/Ervan) Buyung mengatakan pemantauan terus dilakukan, terutama setelah Gubernur Kaltim menetapkan status siaga penanggulangan bencana karhutla yang dipicu kondisi kemarau dan fenomena El Nino hingga akhir 2026.
“Kemarau panjang menyebabkan kebakaran lahan di sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan. Apalagi diprediksi kemarau akan berlangsung hingga akhir tahun ini,” ujarnya.
2. Karakter tanah di Kaltim berbeda dengan Kalbar dan Kalteng

Pemadam kebakaran memadamkan api di lahan gambut, di kebun sawit Kubu Raya, Kalbar. (IDN Times/Polres Kubu Raya). Menurut Buyung, karakteristik lahan di Kaltim berbeda dengan Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) yang memiliki kawasan gambut cukup luas.
Kebakaran di lahan gambut cenderung lebih sulit ditangani karena api dapat menjalar hingga ke lapisan bawah tanah. Meski permukaan terlihat sudah padam setelah disiram air, bara api di dalam gambut masih dapat bertahan dan kembali memicu kebakaran.
“Kalau kebakaran lahan gambut saat disiram air, terlihat seolah-olah padam. Padahal di dalamnya masih terdapat bara api sehingga menghasilkan asap yang tebal,” jelasnya.
Sementara di Kaltim, karhutla lebih banyak terjadi di lahan kering dan semak belukar yang mudah terbakar saat musim kemarau.
“Sedangkan kebakaran semak belukar akan mati saat terkena siraman air,” kata Buyung.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat penanganan karhutla di Kaltim relatif lebih mudah dibandingkan wilayah yang memiliki lahan gambut.
3. Laporan titik panas di Kaltim berdasarkan pencitraan Sipongi

Asap pekat yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), menyelimuti wilayah Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat pada Jumat (7/8/2026) pagi hari. (dok. BPBD Kalbar) Untuk memperkuat pemantauan, BPBD Kaltim juga memanfaatkan aplikasi Sipongi milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Sistem tersebut menyajikan informasi titik panas berdasarkan pencitraan satelit dan dilengkapi dengan sejumlah data pendukung, seperti kondisi cuaca, situasi lapangan, serta laporan petugas. Informasi itu digunakan sebagai peringatan dini dan bahan evaluasi dalam mengantisipasi karhutla.
Berdasarkan laporan Sipongi pada Juni 2026, titik panas yang terpantau di Kaltim mencapai sekitar 2.715 hektare di sejumlah kawasan.
Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan sejumlah provinsi tetangga. Pada periode yang sama, titik panas di Kalimantan Barat tercatat sekitar 38.310 hektare, Kalimantan Tengah 7.634 hektare, dan Kalimantan Selatan 8.019 hektare. Sementara Kalimantan Utara tercatat sekitar 400 hektare.
Buyung menegaskan data Sipongi tidak serta-merta menunjukkan adanya kebakaran. Sistem tersebut mendeteksi titik panas (hotspot) melalui pencitraan satelit yang masih membutuhkan verifikasi di lapangan.
“Laporan Sipongi ini adalah temuan titik panas dan bukan titik api berdasarkan pencitraan satelit. Sehingga laporannya menjadi bahan evaluasi kami dalam memantau karhutla,” pungkasnya.




















