Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Naik Dango ke-3 Pontianak Angkat Tradisi Pabayo yang Mulai Terlupakan
Lomba meraut pabayo di Pontianak. (IDN Times/Teri).

Pontianak, IDN Times - Tradisi Naik Dango ke-3 di Kota Pontianak resmi digelar di Rumah Radakng, menghadirkan beragam kegiatan budaya yang meriah dan sarat makna. Salah satu yang mencuri perhatian adalah lomba meraut pabayo, tradisi khas masyarakat Dayak yang kini mulai jarang dijumpai.

Pabayo atau pebayu merupakan rumbai hasil rautan bambu atau kayu yang memiliki nilai sakral bagi masyarakat Dayak, khususnya Dayak Kanayatn dan Salako di Kalimantan Barat.

Benda ini biasanya dipasang di tanah sebagai penanda berlangsungnya upacara adat atau pesta gawai, sekaligus melambangkan kesuburan, kesejahteraan, dan penghormatan kepada leluhur.

1. Lomba Pabayo jadi daya tarik acara

Salah satu peserta lomba pabayo. (IDN Times/Teri).

Keberadaan perajin pabayo kini semakin berkurang. Hal ini disampaikan oleh Sajem, salah satu juri lomba, yang menyoroti minimnya generasi muda yang memiliki keterampilan meraut pabayo.

“Pabayo ini merupakan alat ritual suku Dayak yang selalu digunakan dalam berbagai kegiatan adat. Namun sekarang, generasi muda yang bisa membuatnya sudah mulai berkurang,” ujarnya, Kamis (25/4/2026).

Menurutnya, lomba meraut pabayo dalam rangkaian Naik Dango tahun ini menjadi langkah strategis untuk menarik minat generasi muda agar mau mempelajari sekaligus melestarikan tradisi tersebut.

“Sekarang peraut pabayo berkurang, maka melalui perlombaan ini diharapkan generasi muda berminat untuk membuatnya,” tambahnya.

2. Butuh keterampilan khusus untuk raut pabayo

Lomba meraut pabayo sukses digelar. (IDN Times/Teri).

Sajem menjelaskan, setiap pabayo memiliki bentuk dan tingkatan yang berbeda, tergantung pada jenis ritual yang dilaksanakan mulai dari pengobatan, pembangunan rumah, hingga pesta gawai.

Proses pembuatannya pun tidak mudah, karena membutuhkan keterampilan khusus dalam meraut bambu agar tidak putus serta menghasilkan bentuk bergelombang yang indah dan bernilai seni tinggi.

3. Kenalkan budaya dan tradisi dayak

Lomba meraut pabayo di acara Naik Dango. (IDN Times/Teri).

Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Disporapar Kalbar, Rita Hastarita, mengapresiasi langkah panitia yang menghadirkan lomba tersebut sebagai bagian dari festival budaya.

Dia menilai, kegiatan ini merupakan upaya konkret dalam menjaga keberlangsungan budaya Dayak yang hingga kini masih digunakan dalam berbagai kegiatan adat.

“Ini adalah upaya untuk mengenalkan sekaligus mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, agar bisa belajar meraut pabayo sebagai bagian dari tradisi suku Dayak,” katanya.

Rita juga menekankan pentingnya kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah dalam menjaga tradisi di tengah arus modernisasi.

“Memang saat ini minat anak muda terhadap tradisi ini mulai berkurang. Karena itu, melalui berbagai event budaya, kita dorong agar tradisi seperti meraut pabayo tetap hidup dan tidak ditinggalkan,” tukasnya.

Editorial Team