Bupati Kubu Raya, Sujiwo. (IDN Times/istimewa).
Meski terjadi keributan, tenaga medis tetap melanjutkan penanganan terhadap Iin. Karena membutuhkan perawatan lebih lanjut, pasien kemudian dirujuk ke RSUD dr Soedarso Pontianak.
Namun, Iin meninggal dunia setelah menjalani proses rujukan. Peristiwa dugaan kekerasan tersebut kemudian terekam dalam video dan beredar di media sosial hingga menjadi perhatian publik.
Menanggapi kejadian itu, Bupati Kubu Raya Sujiwo akhirnya angkat bicara. Ia menegaskan tidak membenarkan tindakan kekerasan yang dilakukan siapa pun, termasuk jika pelakunya merupakan anggota keluarganya.
Sujiwo mengaku awalnya belum ingin memberikan pernyataan karena masih dalam suasana duka. Ia bahkan berencana baru berbicara setelah tujuh hari sejak kepergian Iin.
“Sebenarnya saya belum akan membuat suatu statement berkaitan dengan viralnya kejadian arogansi di rumah sakit TBSI. Karena pertama kami masih berkabung, masih berduka dan memang saya itu rencananya setelah tujuh hari (akan berkomentar),” ungkap Sujiwo, Jumat (14/8/2026).
Namun, karena peristiwa tersebut telah menjadi perhatian publik, Sujiwo merasa perlu memberikan penjelasan. Sebagai pribadi maupun kepala daerah, ia menegaskan tidak pernah memberikan toleransi terhadap tindakan kekerasan.
“Siapapun yang melakukan, termasuk keluarga saya,” tegasnya.
Sujiwo juga meminta orang-orang yang berada di lingkaran keluarganya maupun yang merasa dekat dengannya untuk ikut menjaga nama baik, bukan justru melakukan tindakan yang dapat merugikannya.
“Harusnya kalau keluarga saya, mereka harus selalu menjaga saya. Menjaga saya, memberikan motivasi kepada saya. Termasuk orang yang merasa dekat dengan saya. Mereka harus menjaga saya, harus memotivasi saya. Menjaga nama baik saya, bukan sebaliknya,” ujarnya.