Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Andi Sri Juliarti (IDN Times/Hilmansyah)
Sementara itu, Dio juga menganulir komentar yang dia sampaikan sebelumnya tentang varian baru COVID-19 bernama D614G. Kata dia, di Balikpapan belum ada ahli yang dapat menjelaskan secara pasti jenis virus yang menjangkiti para pasien.
Namun ia menyebut, Kementerian Kesehatan telah menunjuk 13 laboratorium biomolekuler untuk melakukan penelitian.
"Kemarin kami video conference bersama Pak Luhut. Beliau menyampaikan untuk meningkatkan kewaspadaan karena diduga virus bermutasi sudah terjadi di Indonesia. Ini juga berdasarkan hasil dari 13 laboratorium tersebut," beber Dio.
Dio menyebut, apa yang disampaikannya berdasar data umum secara nasional tentang sifat virus varian baru yang menyebar lebih cepat. "Di Balikpapan belakangan ini kita bisa melihat kenaikan kasus sangat cepat dibandingkan dulu. Ketika ditemukan satu kasus misal di keluarga atau perkantoran, persebaran virusnya sangat cepat," kata dia.
Bahkan, tambah Dio, klaster COVID-19 yang terjadi belakangan ini sangat cepat menyebar hingga mencapai belasan orang. Apalagi Balikpapan adalah kota terbuka yang merupakan pintu gerbang.
"Orang dari Pulau Jawa bisa membawa virus jenis baru ini ke sini. Jadi bisa jadi ini virus jenis baru, walaupun laboratorium tidak mengambil sampel ke masyarakat Balikpapan," tandasnya.