Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Terjebak Karhutla, 3 Orangutan di Kalbar Dipindahkan ke Tempat Aman

Kota Balikpapan
Terjebak Karhutla, 3 Orangutan di Kalbar Dipindahkan ke Tempat Aman
Orangutan di Ketapang dievakuasi karena terancam karhutla. (IDN Times/YIARI).
  • Karhutla di Ketapang memutus habitat dan sumber pakan, mendorong induk orangutan Mama Yuni bersama Yuni dan Pura masuk ke perkebunan dekat permukiman.
  • BKSDA Kalbar, TANAGUPA, YIARI, dan masyarakat mengevakuasi ketiganya pada 21 Agustus 2026 setelah titik api masih ditemukan dan risiko konflik manusia-satwa meningkat.
  • Setelah pemeriksaan kesehatan dan perjalanan darat-air sekitar lima jam, tiga orangutan ditranslokasikan serta dilepasliarkan di Taman Nasional Gunung Palung dengan pemantauan lanjutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ketapang, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga memutus ruang hidup satwa liar.

Dampaknya dirasakan satu induk orangutan bersama dua anaknya yang terpaksa keluar dari habitatnya dan masuk ke kawasan perkebunan masyarakat di Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan.

Ketiganya akhirnya dievakuasi tim gabungan BKSDA Kalimantan Barat, Balai Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA), Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), serta masyarakat pada 21 Agustus 2026.

Ketiga orangutan tersebut diberi nama Mama Yuni, Yuni, dan Pura. Mereka sebelumnya telah terpantau berada di kawasan perkebunan warga sejak awal tahun.

  1. 1. Karhutla ganggu habitat orangutan

    778156aa-668c-4e32-bb6a-3e81c80ed0f4.jpeg
    Terancam karhutla, orangutan di Ketapang dievakuasi. (IDN Times/YIARI).

    Tim Orangutan Protection Unit (OPU) YIARI terus memantau keberadaan ketiganya karena kawasan tersebut berbatasan dengan permukiman masyarakat.

    Selama masih terdapat fragmen hutan yang tersisa, orangutan masih dapat bertahan di wilayah tersebut. Namun, situasi berubah setelah kebakaran besar melanda kawasan itu pada Juli hingga Agustus 2026.

    Kebakaran menghanguskan sebagian hutan yang selama ini menjadi jalur pergerakan sekaligus sumber pakan bagi orangutan.

    Habitat yang terfragmentasi semakin terputus. Ruang jelajah menyempit dan orangutan akhirnya berada di kawasan perkebunan yang semakin dekat dengan permukiman.

  2. 2. Tiga orangutan dievakuasi dari lahan karhutla

    6f6b8fee-7006-4a66-96e5-b54d3cbfe945.jpeg
    Orangutan di Ketapang dievakuasi ke lokasi aman. (IDN Times/YIARI).

    Kondisi tersebut juga meningkatkan potensi terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar. Melihat ancaman yang semakin besar, BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI melakukan asesmen dan memutuskan mengevakuasi ketiga orangutan tersebut.

    Keputusan itu diambil karena titik api masih ditemukan di sejumlah lokasi di Desa Tanjungpura dan sekitarnya.

    Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, mengatakan kejadian tersebut menunjukkan dampak karhutla terhadap satwa liar tidak berhenti ketika api padam.

    “Ketika hutan terbakar dan koridor pergerakan terputus, orangutan kehilangan ruang untuk mencari makan, berlindung, dan berpindah. Pada akhirnya, mereka terdorong masuk ke kebun dan semakin dekat dengan permukiman manusia,” ujarnya, Rabu (26/8/2026).

    Menurut Silverius, penyelamatan satwa yang terjebak merupakan langkah penting, tetapi pencegahan kerusakan habitat harus menjadi perhatian utama.

    “Kalau kita hanya menyelamatkan orangutan ketika mereka sudah terjebak di kebun, kita sebenarnya sedang menangani akibat, bukan akar persoalan,” tegasnya.

  3. 3. Orangutan ditranslokasi ke Taman Nasional Gunung Palung

    99064909-20c8-4061-9905-5122f38ff07f.jpeg
    Terancam karhutla, orangutan di Ketapang ditranslokasi Taman Nasional Gunung Palung. (IDN Times/YIARI).

    Proses evakuasi pun tidak mudah. Tim gabungan tiba di lokasi sekitar pukul 07.00 WIB dengan kondisi wilayah masih diselimuti kabut asap akibat karhutla.

    Tim membutuhkan waktu sekitar delapan jam untuk mengevakuasi ketiga orangutan. Proses dilakukan dengan prosedur khusus menggunakan anestesi yang dosisnya dihitung oleh dokter hewan berdasarkan kondisi dan perkiraan berat badan masing-masing satwa.

    Setelah berhasil diamankan, ketiga orangutan menjalani pemeriksaan kesehatan. Tim medis juga memberikan cairan infus sebelum satwa dipindahkan.

    Hasil pemeriksaan menunjukkan ketiganya memungkinkan untuk ditranslokasikan. Mama Yuni, Yuni, dan Pura kemudian dibawa menuju kawasan Taman Nasional Gunung Palung yang dinilai memiliki habitat lebih aman dan sesuai untuk kehidupan orangutan di alam liar.

    Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran memakan waktu sekitar lima jam menggunakan transportasi darat dan air.

    Sesampainya di kawasan TANAGUPA, ketiga orangutan kemudian dilepasliarkan ke dalam hutan dengan dukungan petugas taman nasional dan masyarakat setempat.

    Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, Prawono Meruanto, mengatakan pihaknya akan terus memantau kondisi ketiga orangutan setelah pelepasliaran.

    “Kawasan Taman Nasional Gunung Palung merupakan habitat alami yang aman untuk mendukung kelangsungan hidup orangutan,” tukasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More