Budi Daya Kratom, Potensi Hilirisasi Tembus Rp5,7 Miliar per Hektare

Samarinda, IDN Times - Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, menerima audiensi PT Borneo Riseta Naturafarm bersama PT DJB Botanicals Indonesia untuk membahas potensi hilirisasi tanaman Kedemba atau kratom (Mitragyna speciosa) sebagai komoditas ekspor unggulan Kaltim. Pertemuan berlangsung di Ruang Rapat Wakil Gubernur Kaltim, Senin (11/5/2026).
Audiensi tersebut dihadiri Islamudin Ahmad, Rudianto Amirta, dan Baso Didik Hikmawan dari PT Borneo Riseta Naturafarm, serta Haris Wafa dan Dwi Lestari dari PT DJB Botanicals Indonesia.
1. Potensi menjanjikan budi daya kratom
Ia menjelaskan, kratom merupakan tanaman tropis dari famili Rubiaceae yang tumbuh di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, Filipina, hingga Papua Nugini.
Di Kalimantan Timur, tanaman ini dikenal dengan nama lokal Kedemba. Sementara di Kalimantan Barat disebut Purik atau Ketum, dan di Kalimantan Tengah serta Kalimantan Selatan dikenal sebagai Kayu Sapat.
Menurut Islamudin, potensi ekonomi tanaman kratom cukup besar. Daun segar kratom diperkirakan mampu menghasilkan pendapatan Rp80 juta hingga Rp120 juta per hektare per tahun. Nilai tersebut dapat meningkat drastis melalui proses hilirisasi menjadi produk ekstrak berkadar tinggi dengan potensi pendapatan mencapai Rp2,3 miliar hingga Rp5,7 miliar.
“Hilirisasi membuka peluang peningkatan nilai tambah melalui pengolahan simplisia mentah menjadi serbuk presisi, ekstrak, hingga produk farmasi siap ekspor,” jelasnya dalam akun IG Pemprov Kaltim.
2. Kebutuhan produk kratom di dunia

Haris Wafa dari PT DJB Botanicals Indonesia menambahkan, Indonesia saat ini memasok lebih dari 80 persen kebutuhan kratom dunia. Permintaan terbesar datang dari Amerika Serikat dan Eropa untuk industri herbal dan kebugaran, serta Thailand dan India untuk kebutuhan industri ekstraksi bahan alam.
PT DJB Botanicals Indonesia sendiri merupakan pionir eksportir produk kratom di Kalimantan Timur sejak 2019. Fasilitas produksinya berada di Kawasan Industri L3 Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara. Perusahaan tersebut juga telah mengantongi izin ekspor kratom dari Kementerian Perdagangan RI.
Sementara itu, PT Borneo Riseta Naturafarm merupakan lembaga riset yang telah meneliti kratom sejak 2019 dengan melibatkan 20 ahli dari berbagai disiplin ilmu. Fokus penelitian meliputi isolasi alkaloid dan standardisasi mutu produk.
Haris menjelaskan, perusahaan memiliki kapasitas mesin grinder mill sebesar satu ton per hari dan disk mill hingga delapan ton per hari. Pasokan bahan baku kratom berasal dari sejumlah wilayah di Kalimantan Timur, seperti Kutai Kartanegara, Kutai Barat, Kutai Timur, Penajam Paser Utara, serta sebagian wilayah Kalimantan Selatan.
Ia berharap Pemprov Kaltim dapat mendorong pemetaan potensi kratom di daerah, seperti yang telah dilakukan Provinsi Kalimantan Utara.
Selain kratom, diversifikasi pengembangan produk juga diharapkan mencakup tanaman endemik Kalimantan lainnya seperti tahongai, nuciferine, arecoline, dan bawang dayak.
3. Komitmen Pemprov Kaltim dalam pengembangan kratom

Menanggapi hal tersebut, Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menyatakan dukungannya terhadap pengembangan hilirisasi kratom di daerah.
Ia mengatakan Pemprov Kaltim akan menindaklanjuti pembahasan tersebut bersama sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Dinas Kehutanan, Tim Ahli Gubernur, dan instansi terkait lainnya.
“Pemerintah daerah akan fokus membahas aspek regulasi sekaligus pengembangan tanaman kratom secara menyeluruh,” ujar Seno.
Pemprov Kaltim juga menyatakan kesiapan memberikan dukungan pendanaan untuk pengembangan hilirisasi kratom sebagai bagian dari upaya diversifikasi sumber pendapatan daerah berbasis sumber daya alam berkelanjutan.


















