Operasi Pasar Digelar untuk Menekan Lonjakan Harga Sembako di PPU

Kenaikan harga sembako jelang Natal dan Tahun Baru 2022

Penajam, IDN Times - Pemkab Penajam Paser Utara (PPU) Kalimantan Timur (Kaltim) akan menggelar operasi pasar jelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2022. Operasi pasar dimaksudkan guna menekan lonjakan kenaikan harga sembilam bahan pokok (sembako) sudah terjadi sepekan ini. 

"Guna menekan harga sembako dan kebutuhan masyarakat lainnya, menghadapi Natal Tahun Baru 2022, kami telah jadwalkan operasi pasar murah kerja sama dengan Perum Badan Urusan Logistik (BULOG) Kantor Cabang Pembantu Tanah Grogot," kata Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskukmperindag) PPU Muhammad Sukadi Kuncoro kepada IDN Times, Rabu (8/12/2021).

1. Operasi pasar digelar di seluruh kecamatan PPU

Operasi Pasar Digelar untuk Menekan Lonjakan Harga Sembako di PPUSuasana kesibukan di Pasar Induk Penajam (IDN Times/Ervan Masbanjar)

Adapun pelaksanaan operasi pasar ini, kata Kuncoro akan dilaksanakan terjadwal di lima kecamatan PPU. Kecamatan Penajam dilaksanakan pada Senin 13 Desember 2021 disusul Babulu pada Selasa 14 Desember 2021.

Setelah itu, baru dilanjutkan Kecamatan Waru pada Rabu 15 Desember 2021.

Sedangkan Kecamatan Sepaku digelar pada Kamis 16 Desember 2021 dan terakhir Kecamatan Penajam dipusatkan di Islamic Center Nipah-Nipah pada Jumat 17 Desember 2021. 

"Kegiatan kami laksanakan setiap pukul 09.00 Wita sampai selesai,” sebutnya.

Baca Juga: Harga Cabai di PPU Melambung Tinggi Jelang Natal dan Tahun Baru

2. Fenomena kenaikan harga sembako jelang hari besar keagamaan

Operasi Pasar Digelar untuk Menekan Lonjakan Harga Sembako di PPUIlustrasi Minyak Goreng. (IDN Times/Sunariyah)

Diakuinya, setiap tahun ada fenomena kenaikan harga sembako jelang perayaan hari-hari keagamaan di Indonesia, termasuk di antaranya Natal dan tahun baru.

Sejumlah kebutuhan termasuk sembako dan cabai alami kenaikan. Oleh karena itu, pihaknya berupaya untuk menekan harga sembako terutama minyak goreng dengan cara menggelar operasi pasar. 

“Kami akui ini saat ini harga cabai telah tembus mencapai Rp90 per kilogram. Namun karena bukan masuk dalam kategori sembako, sehingga kegiatan operasi pasar tidak menjual cabai. Tetapi saya yakin harga cabai akan kembali normal pasca Natal dan tahun baru nanti," sebut Kuncoro panggilan akrabnya.

3. Harga Cabai dari Kalsel harganya lebih murah dibanding asal Sulawesi dan Jawa

Operasi Pasar Digelar untuk Menekan Lonjakan Harga Sembako di PPUCabai rawit (IDN Times/Umi Kalsum)

Terpisah, Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten PPU Surito Widarie menerangkan, terkait tingginya harga cabai rawit atau keriting tersebut disebabkan akan kendala pasokan cabai dari Kalimantan Selatan (Kalsel) akibat beberapa wilayah di provinsi tersebut sedang dilanda bencana banjir.  

“Kami akui cabai yang dipasokan dari Kalsel harganya sedikit lebih murah dibanding pasokan asal Sulawesi dan Jawa. Sehingga berpengaruh terhadap harga eceran. Tetapi Selasa kemarin (7/12/2021) harga capai khususnya di pasar Petung, Kecamatan Penajam, masih normal yakni Rp65 ribu per kilogram, sebelumnya dijual Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram,” jelasnya.

4. Warga keluhkan naiknya harga eceran cabai yang tembus Rp100 ribu per kilogram

Operasi Pasar Digelar untuk Menekan Lonjakan Harga Sembako di PPUPedagang sedang menjajahkan panganan (IDN Timès/ istimewa)

Seperti diberitakan sebelumnya, warga dan pedagang makanan di PPU mengeluhkan lonjakan kenaikan harga cabai menyentuh Rp100 ribu per kilogram. Kenaikan harga cabai ini terjadi di Pasar Induk Penajam selama dua hari terakhir.

“Tadi pagi saya baru saja membeli cabai keriting dan rawit dan kaget mendengar harganya yang tembus hingga Rp100 ribu per kilogram untuk lombok yang sudah dibersihkan tangkainya,” ujar pedagang gorengan di Nipah-Nipah, Feri kepada IDN Times, Selasa (7/12/2021). 

Dikatakannya, dalam waktu tiga minggu harga cabai tersebut terus naik awalnya seharga Rp35 ribu per kilogram hingga sekarang jadi Rp90 ribu per kilogram yang masih ada tangkainya dan Rp100 per kilogram telah bersih tak bertangkai.

“Kami berharap agar pemerintah bisa mengendalikan harga cabai tersebut, karena sudah menjadi bahan pokok bagi masyarakat termasuk pedagang gorengan seperti saya ini,” pungkasnya.

Baca Juga: Puluhan Rumah Warga IKN di Penajam Paser Utara Terendam Banjir Rob

Topik:

  • Sri Wibisono

Berita Terkini Lainnya