Karhutla Kayong Utara Bakar Kaki Mama Penja, Orang Utan Kelaparan

- Karhutla di Kayong Utara melukai orang utan betina Mama Penja, yang ditemukan bersama anaknya dalam kondisi kurus, lemas, dehidrasi, dan mengalami luka bakar di kedua kaki.
- Evakuasi gabungan membawa Mama Penja ke pusat rehabilitasi YIARI setelah pemeriksaan menunjukkan anemia berat dan kekurangan pangan, diduga akibat habitat serta sumber makanannya terbakar.
- Orang utan jantan Kumbang juga dievakuasi dengan gangguan paru-paru, luka, dan bekas cedera; BKSDA Kalbar mencatat 18 orang utan telah diselamatkan akibat karhutla.
Kayong Utara, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat (Kalbar) membuat satwa liar ikut menjadi korban.
Satu individu orang utan betina ditemukan dengan luka bakar pada kedua kakinya setelah diduga berjalan di atas lahan gambut yang terbakar.
Orang utan yang kemudian diberi nama Mama Penja itu dievakuasi bersama anaknya dari sebuah kebun sawit milik warga di Desa Penjalaan, Kecamatan Simpang Hilir, pada Sabtu (12/9/2026).
1. Ditemukan tubuh kurus, kaki terbakar

Luka bakar akibat berjalan di tanah karhutla. (IDN Times/YIARI). Saat ditemukan, kondisi Mama Penja sangat memprihatinkan. Tubuhnya kurus, lemas dan mengalami dehidrasi. Luka bakar terlihat pada kedua kakinya hingga menyebabkan kulit terkelupas.
Dokter hewan satwa liar sekaligus Direktur Utama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), Dr Karmele Llano Sanchez, menduga luka tersebut terjadi karena Mama Penja berjalan di atas tanah gambut yang terbakar.
“Induk orang utan dan anaknya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Keduanya terlihat sangat kurus dan lemas,” ujar Karmele, Selasa (15/9/2026).
2. Karhutla buat orang utan susah cari makan

Orang utan dievakuasi karena habitat terbakar. (IDN Times/YIARI). Tim gabungan dari BKSDA Kalimantan Barat, YIARI, Yayasan Palung, LPHD Penjalaan, LPHD Padu Banjar dan masyarakat kemudian melakukan evakuasi.
Mama Penja terlebih dahulu dibius menggunakan blow dart. Setelah berhasil diamankan, tim medis langsung memberikan cairan infus dan oksigen sebelum membawanya ke Pusat Rehabilitasi YIARI di Ketapang.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan kondisi Mama Penja lebih serius. Orang utan tersebut mengalami anemia berat yang diduga berkaitan dengan kekurangan makanan dalam waktu lama setelah habitatnya terbakar.
Kebakaran juga diduga membuat sumber pakan di habitatnya semakin terbatas. Tim menemukan kondisi gigi Mama Penja mengalami banyak pengikisan. Ia diduga terpaksa mengonsumsi kulit pohon atau jenis makanan lain yang tidak sesuai secara terus-menerus.
Karmele mengatakan kondisi Mama Penja menunjukkan betapa berat dampak kebakaran terhadap satwa yang kehilangan sumber makanan.
“Yang paling menyedihkan bagi saya adalah ketika orang utan mulai terbangun dari pembiusan. Ia tidak menunjukkan perilaku agresif atau berusaha melawan. Ia hanya mencari makanan,” katanya.
3. Alami abnormal pada paru-paru, sempat batuk

Tim gabungan mengevakuasi 3 orang utan di Kayong Utara. (IDN Times/YIARI). Tak hanya Mama Penja dan anaknya, satu orang utan jantan dewasa juga dievakuasi dari Desa Padu Banjar pada hari yang sama.
Orang utan bernama Kumbang tersebut sebelumnya pernah dievakuasi dari kawasan yang sama pada 2022 dan telah dilepasliarkan kembali. Namun, kebakaran yang meluas diduga membuatnya kembali masuk ke kebun dan wilayah permukiman warga.
Saat diperiksa, Kumbang ditemukan mengalami gangguan kesehatan. Tim medis mendapati suara abnormal pada paru-paru kanannya. Sebelumnya, warga juga melaporkan Kumbang sempat terdengar batuk ketika berada di tengah kepulan asap.
Tim turut menemukan sejumlah luka dan bekas cedera pada tubuh Kumbang, termasuk benda asing yang diduga merupakan peluru serta bekas jerat.
Ketiga orang utan yang dievakuasi dari dua lokasi tersebut kini menjalani perawatan di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI, Ketapang.
Sementara itu, Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane mengatakan penyelamatan dilakukan setelah pihaknya menerima laporan dari masyarakat.
“Secara keseluruhan, hingga saat ini sudah ada 18 individu orang utan yang kami selamatkan akibat karhutla,” ujar Murlan.
Ia mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila menemukan satwa liar yang terdampak kebakaran agar dapat segera dievakuasi dan mendapat penanganan medis.



















